nikena07's blog

June 18th, 2010

INDUKSI PENGAKARAN STEK PADA PURING DENGAN NAA 0 ppm, 100 ppm, dan 200 ppm

Posted by nikena07 in Academic

Pertumbuhan akar merupakan faktor awal yang sangat penting dalam perbanyakan vegetatif melalui stek. Pembentukan akar terjadi karena adanya pergerakan ke bawah dari auksin, karbohidrat dan rooting cofactor (zat-zat yang berinteraksi dengan auksin yang mengakibatkan perakaran) baik dari tunas maupun dari daun. Zat-zat ini akan mengumpul dan menstimulir pembentukan akar stek yang berupa akar adventif. Akar adventif  adalah akar yang tumbuh dari bagian tanaman yang bukan embrio atau karena munculnya bukan dari akar yang telah tumbuh sebelumnya. Akar adventif akan timbul dari 2 macam sumber, yaitu dari jaringan kalus dan dari akar morfologi primordial (Rochiman dan Harjadi 1973).

NAA sebagai auksin sintetik memacu pembentukan akar adventif pada stek batang puring. Pada percobaan ini, batang yang disetek dapat menumbuhkan akar adventif meskipun daun muda dan kuncup yang kaya auksin dipangkas. Hal ini disebabkan NAA yang diberikan pada batang yang akan disetek menginduksi terbentuknya auksin. Batang muda puring dalam media I tidak tumbuh akar maupun tunas. Batang muda puring pada media I atau yang tidak direndam dengan NAA mengalami kematian karena terdapatnya air yang berlebihan dalam tanah mediumnya. Air yang berlebihan menyebabkan batang menjadi cepat busuk dan mati karena terinfeksi oleh cendawan. Batang yang tidak diinduksi dengan NAA sekalipun seharusnya dapat membentuk akar adventif dengan adanya kemampuan akar untuk mensintesis auksin dalam jumlah yang cukup bagi pertumbuhannya. Batang-batang puring dewasa pada media II dan III mengalami penumbuhan tunas dan banyak akar adventif. Hasil ini tidak memperkuat simpulan Hartmann et al. (1990) yang menyatakan bahwa bahan stek yang diambil dari bagian yang lebih muda (juvenil) memiliki kemampuan berakar lebih baik daripada yang lebih tua (jaringan dewasa) karena kegiatan pembelahan, pemanjangan, dan deferensiasi sel lebih aktif pada jaringan stek yang muda.

Pemberian auksin memacu pemanjangan potongan akar atau bahkan akar utuh pada banyak spesies tetapi hanya pada konsentrasi yang sangat rendah (10-7 sampai dengan 10-13 M, bergantung pada spesies dan umur akar). Pada konsentrasi yang lebih tinggi (tapi masih cukup rendah, antara 1 sampai 10 mM), pemanjangan hampir selalu terhambat. Jumlah akar adventif pada batang dari media II (NAA 100 ppm) lebih banyak daripada batang dari media III (NAA 200 ppm) yaitu 31 akar. Tetapi, jumlah primordia akar yang tumbuh pada batang dari media III lebih banyak daripada batang dari media II. Namun, perbedaan jumlah primordia akar ini tidak terlalu besar. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi NAA sebesar 100 hingga 200 ppm merupakan konsentrasi yang bagus untuk menginduksi perakaran stek. Inisiasi akar paling bagus terdapat pada batang yang diberi NAA 200 ppm, ditunjukkan dengan banyaknya jumlah baris dan jumlah akar adventif, jumlah primordia akar, serta panjang rata-rata akar adventif dibandingkan dengan batang dengan konsentrasi NAA 100 ppm.

June 18th, 2010

Kecerdasan Emosional dalam Meniti Karier

Posted by nikena07 in sosial

Kecerdasan Emosional dalam Meniti Karier

1. Pengertian

Dewasa ini, kecerdasan emosional sangat diperlukan oleh setiap orang, baik dalam hal pergaulan, pendidikan, karier, bahkan dalam kehidupan rumah tangga. Ini karena kecerdasan emosional menentukan bagaimana seseorang menampilkan kesan baik tentang dirinya terhadap orang lain, mampu mengolah dan mengungkapkan emosi dengan baik, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan dapat mengendalikan emosi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya sehingga interaksinya dengan orang lain tidak terganggu.

Sebelumnya, perlu kita ketahui beberapa pengertian kecerdasan emosional menurut pendapat para ahli. Goleman (1995) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Sementara itu, Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, menurut Howes dan Herald (1999), kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat didefinisikan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain, kecakapan dalam menanggapi suatu hubungan dengan orang lain, serta mampu mengolah dan mengendalikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Kecerdasan emosional ini merupakan salah satu dari beberapa macam kecerdasan yang dimiliki manusia. Karena besarnya peranan kecerdasan emosional ini dalam kehidupan, maka seseorang dianjurkan untuk mengasahnya.

2. Peran Kecerdasan Emosional dalam Meniti Karier

a. Macam-macam Kecerdasan

Dr. Howard Gadner mengemukakan pemikirannya mengenai delapan macam kecerdasan bagi semua orang untuk mengatasi setiap permasalahannya. Kecerdasan-kecerdasan ini meliputi kecerdasan berbahasa, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan ritmis-musikal, kecerdasan kinestik-tubuh, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Pada umumnya, setiap orang kuat dalam satu atau dua kecerdasan saja. Namun dengan belajar memahami dan mengembangkan berbagai kecerdasan di atas, seseorang dapat mahir dalam kecerdasan lainnya.  Berikut penjelasan dari masing-masing aspek kecerdasan.

a. Kecerdasan Berbahasa(Linguistic Intelegence).

Kecerdasan berbahasa ditunjukkan oleh orang-orang yang mudah memahami dan menggunakan bahasa dengan mudah. Mereka berpikir logis, analisis, berurutan dan hasil pekerjaannya menunjukkan hal tersebut. Mereka gemar membaca, menulis, mengingat informasi, berbicara dan membuat kosa-kata.

b. Kecerdasan Matematis-Logis (Logical-Mathematical Intelegence).

Kecerdasan ini ditemukan kepada orang-orang yang suka bermain dengan angka-angka. Mereka sangat suka sekali dengan data-data statistik. Mereka juga mudah memecahkan persoalan matematika dan teka-teki komputer. Mereka mengenali pola dan seringkali dapat memecahkan masalah dengan cara yang tak biasa. Kadang mereka tidak dapat menjelaskan cara bekerjanya. Mereka juga biasanya pemikir yang rasional dan tenang.
c. Kecerdasan Spasial-Visual (Visual-Spasial Intelegence).

Kecerdasan ini terbiasa melihat pola desain dan ruang. Mereka yang mempunyai kecerdasan ini dapat memvisualisasikan objek 2/3 dimensi menjadi nyata. Biasanya ditunjukkan oleh keterampilan dalam membongkar dan memasang kembali barang-barang, mencoret-coret dan membuat gambar multi-dimensi, serta penguasaan arah. Seseorang dengan kekuatan dalam bidang ini memiliki potensi yang besar untuk sukses dalam penemuan teknologi.

d. Kecerdasan Ritmis-Musikal (Musical-Rhytmic Intelegence).

Pemahaman terhadap teori musik, nada, ritma, dan irama serta penguasaannya dalam memainkan alat musik merupakan tanda-tanda kecerdasan ritmis-musikal. Mereka mempunyai kemampuan untuk mengimprovisasikan atau membuat aransir baru untuk sepotong lagu serta harmoni suara.

e. Kecerdasan Kinestik-Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelegence).

Kecerdasan kinestik-tubuh biasa ditunjukkan oleh orang yang suka bekerja dengan bergerak. Mereka bisa bergerak dengan anggun, kuat, dan lentur. Mereka gemar menjaga kebugaran fisiknya dengan baik.  Memanipulasi objek, menirukan tingkah laku dan mimik orang lain, serta bisa menggunakan banyak peralatan olahraga dengan baik merupakan keterampilan mereka.

f. Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelegence).

Orang dengan kecerdasan interpersonal dapat bekerja sama dengan banyak orang, memimpin diskusi, dan berempati terhadap orang lain. Kecerdasan ini mengacu pada cara seseorang bergaul. Mereka yang memiliki kecerdasan emosional dapat bergaul dan menjalin persahabatan dengan mudah.

g. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelegence).

Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan mengenai diri sendiri atau sadar-diri. Ini juga disebut kecerdasan emosional. Sayangnya, orang dengan kecerdasan emosional terlalu termotivasi dengan tujuannya tanpa memperdulikan orang lain. Mereka cenderung menolak bekerja sama karena mereka hanya bisa bekerja optimal dengan memilih topik atau proyeknya sendiri.

h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelegence).

Kecerdasan ini mendefiniskan kepekaan seseorang terhadap lingkungan sekitarnya. Orang dengan kecerdasan ini memiliki pengetahuan yang mengagumkan mengenai alam, seperti flora dan fauna dan sangat teliti dalam mengamati apa yang menjadi perhatiannya. Mereka suka terlibat dalam suatu kelompok yang mengurusi masalah lingkungan hidup.

b. Pandangan-pandangan Tentang Kecerdasan

Saat ini, kecerdasan tidak hanya sebatas kecerdasan intelektual saja atau dikenal sebagai istilah IQ. Pendapat para ahli pun beragam mengenai pengertian kecerdasan ini. Awalnya, kecerdasan dimaknai sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”-nya. Kajian ini menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005).

Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu : (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

Dr. Howard Gadner (1999) mengemukakan pandangannya tentang kecerdasan manusia yang tidak hanya sebatas pada kecerdasan intelektual saja. Menurutnya, kecerdasan manusia itu beragam, mulai dari kecerdasan bahasa, musical, interpersonal, intrapersonal, dan sebagainya. Kecerdasan tersebut dikenal dengan kecerdasan majemuk (Colin Rose dan Malcolm J N 2002).

Lain dengan Goleman (1999) yang mengatakan bahwa prestasi seseorang sangat ditentukan oleh kecerdasan emosional atau yang dikenal dengan sebutan Emotional Quotient (EQ).

c. Peran Penting Kecerdasan Emosional dalam Meniti Karier

Tidak dipungkiri bahwa kemampuan dan nilai akademis yang tinggi dapat membuka banyak pintu bagi kesuksesan seseorang. Akan tetapi, kenyataannya, baik dalam dunia kerja, pribadi, maupun proses belajar mengajar, kemampuan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sangat berperan untuk mencapai kesuksesan seseorang. Para ahli psikologi berpendapat bahwa keberhasilan seseorang dalam meniti karier banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional dan bukan kecerdasan intelektualnya. Hal ini disebabkan setiap individu dituntut untuk selalu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan dalam lapangan kerja yang semakin kompetitif dan spesialis.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang mempromosikan kerja sama sebagai tim yang mengacu pada produktivitas dan bukan pada konflik.

Kecerdasan emosional mengandung lima keterampilan utama untuk mendukung kecakapan berinteraksi dalam meniti karier. Keterampilan-keterampilan ini akan menonjol jika terus diasah. Keterampilan yang pertama adalah mengetahui cara berkomunikasi dengan menggunakan keterampilan intelektual dan hati atau perasaan. Dalam hal ini, ketika anda berkomunikasi  dengan orang lain baik secara langsung maupun tidak, kedua belah pihak dituntut untuk mengemukakan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Ini bertujuan untuk menyelaraskan isi pesan dengan apa yang disampaikan sehingga terjadi kesepahaman maksut. Keefektifan komunikasi juga harus didukung oleh gerak tubuh dan ekspresi wajah. Misalnya, saat seorang karyawan berbicara dengan bosnya, karyawan tersebut selalu mengarahkan pandangannnya kea rah bosnya. Ini menandakan sikap menghargai si karyawan terhadap bosnya. Juga, ketika dimintai pendapat oleh bosnya tentang suatu hal, si karyawan akan menyampaikan pernyataan kesetujuannya dengan kata-kata yang baik, argument yang mendukung diiringi senyuman dan anggukan.

Keterampilan kedua adalah cara menyelesaikan masalah. Dalam bidang pekerjaan apapun, kerjasama merupakan penentu tercapainya tujuan. Adanya pertentangan atau konflik tidak akan membuat kerja sama pihak-pihak yang berkepentingan tercapai. Oleh karenanya, cara anda dalam menyelesaikan masalah perlu dikembangkan. Penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.

  1. Menentukan hasil usaha yang diinginkan, yaitu pada situasi menang-menang (win-win situation). Artinya, dari usaha tersebut , pihak anda terpenuhi keinginannya begitu juga dengan pihak yang diajak kerja sama. Situasi menang-menang akan dapat tercapai jika kita mau mendengarkan pandangan-pandangan setiap orang, baik tentang hal-hal yang disukai maupun hasil yang sekiranya membuat mereka bahagia.
  2. Perhatikan masalah yang sebenarnya dan latar belakang penyebab timbulnya permasalahan. Tanyai setiap orang tentang problem apa yang dirasakan.
  3. Mengetahui tendensi masing-masing pihak jika kompromi tidak dapat diwujudkan. Uasahakan keharmonisan hubungan tetap terjaga meskipun kerja sama gagal dilaksanakan.
  4. Perlu mengetahui karakter, temperamen, dan mnotif pihak yang diajak kerja sama. Dengan mengetahui karakter seseorang akan lebih mudah bagi kita mewujudkan kerja sama.
  5. Mencari seorang negosiator jika tidak segera ditemukan titik temu.

Keterampilan ketiga dalam kecerdasan emosional adalah keterampilanb mengelola emosi dalam mengatur tundakan. Ini artinya, belajar mengendalikan dorongan untuk bertindak semata-mata berdasarkan perasaan. Bersikap seperti anak kecil atau memperturutkan hawa nafsu dalam hal pekerjaan hanya akan membawa anda pada kegagalan cara terbaik mengelola emosi adalah dengan mengetahui jati diri anda serta seberapa besar anda mampu untuk bertahan dalam situasi terancam. Kenali kepribadian apakah anda termasuk orang yang rapuh, pendiam, atau bermental kuat.

Menekan emosi dengan cara memendamnya hanya akan menyebabkan depresi, frustasi, masalah kesehatan, dan kepribadian terganggu. Hal terbaik adalah mengekspresikan emosi atau perasaan secara baik terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan pemikiran dan perasaan anda. Pencarian solusi dari masalah tersebut akhirnya tidak akan menimbulkan konflik dalam diri anda. Selain itu, lari dari emosi dengan mengalihkan pada hal-hal yang bersifat kesenangan semata tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan melalaikan anda dari tujuan utama. Hadapi masalah tersebut dengan mengendalikan emosi dan berpegang pada cara-cara penyelesaian yang lebih baik.

Memadukan aspirasi adalah keterampilan keempat dalam kecerdasan emosional. Yang dimaksutkan disini adalah menggabungkan aspirasi anda dengan keinginan orang lain, tanpa mengkompromikannya dengan prinsip dan nilai anda yang mendasar. Anda tidak boleh mengejar tujuan sendiri dan mengabaikan tujuan organisasi. Menyalurkan aspirasi juga harus menghormati dan menghargai orang lain. Anda perlu peduli dengan orang lain agar anda juga mendapatkan empati dan penghargaan. Jika anda mampu memahami nilai-nilai penting bagi orang lain dan juga bagi organisasi, anda akan mudah menyalurkan aspirasi terhadap kedua hal tersebut.

Akhirnya, keterampilan terakhir adalah membangun lingkungan organisasi yang memiliki kecerdasan emosional. Organisasi yang dikelola oleh orang-orang yang bagus kecerdasan emosionalnya, akan berhasil dalam mencapai tujuan. Kecerdasan emosional akan menghilangkan sikap individualistis dan egois dalam bekerja.

Keterampilan kecerdasan emosional yang telah dipaparkan di atas, sebagian besar berlaku bagi mereka yang sudah meniti karier. Bagi mereka, pelajar, mahasiswa, ataupun yang sedang mencari pekerjaan, penting untuk mengembangkan kecerdasan emosional sedini mungkin. Asahlah dengan membaca buku-buku tentang pengembangan kepribadian juga mengikuti organisasi dan kegiatan kepanitiaan. Bagi pelajar sekolah bisa dengan mengikuti OSIS, pramuka, PMR, dan sebagainya. Bagi mahasiswa banyak organisasi dan UKM yang bisa diikuti, misalnya Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas, himpunan mahasiswa pecinta alam, organisasi sosial dan keagamaan, dan menulis karya ilmiah dan PPKM. Ini akan melatih kemampuan dalam berkomunikasi, mengemukakan argumen, mengendalikan emosi, serta bekerja sama.
3. Sumber Rujukan

Gadner Howard. 2002. Multiple Intellegence – Kecerdasan Majemuk Teori dan Praktek. Jakarta : Interaksara.

Goleman Daniel. 1995. Emotional Intelligence. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman Daniel.1999. Working With Emotional Intelligence. Penerjemah  Alex Tri Kancono Widodo. Jakarta : PT Gramedia.

Rose Colin, Malcolm J. Nicholl. 2002. Accelerated Learning for The 21st Century. Penerjemah Dedi Ahimsa. Bandung : Nuansa.

Sukmadinata Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Wirapradja N R D. 2008. 99 Ideas for Happy Leader. Bandung : ZIP BOOKS.

[Terhubung berkala] http://secapramana.tripod.com/ [23 Desember 2008].

[Terhubung berkala] http://BeritaNet.com// [23 Desember 2008].

June 18th, 2010

Microbe Power as a Green Means to Hydrogen Production

Posted by nikena07 in Academic

Microbe Power as a Green Means to Hydrogen Production

ScienceDaily (June 1, 2010) — Scientists have been hard at work harnessing the power of microbes as an attractive source of clean energy. Now, Biodesign Institute at Arizona State University researcher Dr. Prathap Parameswaran and his colleagues have investigated a means for enhancing the efficiency of clean energy production by using specialized bacteria.


Microbial electrochemical cells or MXCs are able to use bacterial respiration as a means of liberating electrons, which can be used to generate current and make clean electricity. With minor reconfiguring such devices can also carry out electrolysis, providing a green path to hydrogen production, reducing reliance on natural gas and other fossil fuels, now used for most hydrogen manufacture.

MXCs resemble a battery, with a Mason jar-sized chamber setup for each terminal. The bacteria are grown in the “positive” chamber (called the anode). The research team, led by Bruce Rittmann, director of Biodesign’s Center for Environmental Biotechnology, had previously shown that the bacteria are able to live and thrive on the anode electrode, and can use waste materials as food, (the bacteria’s dietary staples include pig manure or other farm waste) to grow while transferring electrons onto the electrode to make electricity.

In a microbial electrolysis cell (MEC), like that used in the current study, the electrons produced at the anode join positiviely charged protons in the negative (cathode) chamber to form hydrogen gas. “The reactions that happen at the MEC anode are the same as for a microbial fuel cell which is used to generate electricity, ” Parameswaran says. “The final output is different depending on how we operate it.”

When the bacteria are grown in an oxygen-free, or anaerobic environment, they attach to the MXC’s anode, forming a sticky matrix of sugar and protein. In such environments, when fed with organic compounds, an efficient partnership of bacteria gets established in the biofilm anode, consisting of fermenters, hydrogen scavengers, and anode respiring bacteria (ARB). This living matrix, known as the biofilm anode, is a strong conductor, able to efficiently transfer electrons to the anode where they follow a current gradient across to the cathode side.

The present study demonstrates that the level of electron flow from the anode to the cathode can be improved by selecting for additional bacteria known as homo-acetogens, in the anode chamber. Homo-acetogens capture the electrons from hydrogen in waste material, producing acetate, which is a very favorable electron donor for the anode bacteria.

The study shows that under favorable conditions, the anode bacteria could convert hydrogen to current more efficiently after forming a mutual relationship or syntrophy with homo-acetogens. The team was also able to reduce the negative impact of other hydogen consuming microbes, such as methane-producing methanogens, which otherwise steal some of the available electrons in the system, thereby reducing current. The selective inhibition of methanogens was accomplished by the adding a chemical called 2-bromoethane sulfonic acid to the adode’s microbial stew.

The group used both chemical and genomic methods to confirm the identify of homo-acetogens. In addition to detection of acetate, formate, an intermediary product, was also discovered. With the aid of quantitative PCR analysis, the team was also able to pick up the genomic signature of acetogens in the form of FTHFS, a gene specifically associated with acetogenesis.

“We were able to establish that these homo-acetogens can prevail and form relationships,” Parameswaran says. Future research will explore ways to sustain syntrophic relations between homo-acetogens and anode bacteria, in the absence of the chemical inhibitors.

Further progress could pave the way for eventual large-scale commercialization of systems to simultaneously treat wastewater and generate clean energy. “One of the biggest limitations right now is our lack of knowledge,” says Cesar Torres, one of the current study’s co-authors, who stresses that there remains much to understand about the interactions of bacterial communities within MXCs.

The field is still very young, Torres points out, noting that work on MXCs only began about 8 years ago. “I think over the next 5-10 years the community will bring a lot of information that will be really helpful and that will lead us to good applications.”

The team’s results appear in the advanced online issue of the journal Bioresource Technology.

(source: www.sciencedaily.com)

June 18th, 2010

hello

Posted by nikena07 in Academic

hello